Pengalaman Pahit Tidak Punya Uang Untuk Membayar Deposit Rumah Sakit
Pernah ga kamu sakit tapi ga punya uang?
Saya sih pernah banget dan itu terjadi sekitar 7 tahun lalu dan itu salah satu pengalaman paling miris di hidup saya. Masih dalam ingatan, si bungsu Kezia demam sudah 3 hari, demamnya naik turun dan tidak kunjung sembuh padahal sudah berobat ke Puskesmas. Tapi pas malam ke 4 panasnya makin tinggi bahkan dia terus menangis, akhirnya saya putuskan untuk membawa ke Rumah sakit dekat rumah sambil nangis menggendong dia.
Sesampainya disana Kezia tidak langsung ditangani, petugas disana bilang, �Ibu ke bagian administrasi dan bayar deposit disana dulu nanti kesini lagi�. Saya pun ke bagian administrasi dan ternyata deposit yang diminta yaitu sebesar RP 700.000 , saya pun terdiam, bagaimana mau bayar deposit sedangkan uang yang ada saat itu tidak lebih dari Rp 80.000. Deposit ini berguna untuk jaminan awal saat dirawat . Mendengar harus bayar 700 ribu rupiah saya hanya bisa menangis dan bingung karena kalau tidak cepat ditangani Kezia takutnya Kezia kenapa-kenapa.
Saya mencoba meminta belas kasih pihak rumah sakit, saya terus meminta keringanan dan berjanji akan membayar depositnya nanti. Tapi apa hasilnya? Rumah sakit tetap tidak menerimanya dan keukeuh saya harus membayar deposit lebih dulu karena peraturan rumah sakitnya seperti itu.
Saya mencoba meminta belas kasih pihak rumah sakit, saya terus meminta keringanan dan berjanji akan membayar depositnya nanti. Tapi apa hasilnya? Rumah sakit tetap tidak menerimanya dan keukeuh saya harus membayar deposit lebih dulu karena peraturan rumah sakitnya seperti itu.
Demi Kezia, mau tidak mau saya menghubungi Papa, saya minta tolong pinjam uang untuk bayar deposit. Papa pun kaget karena saya diam-diam membawa Kezia ke rumah sakit tanpa sepengetahuannya. Akhirnya saya pinjam uang Papa dan Alhamdulillah Kezia langsung ditangani oleh dokter. Drama pun ga berhenti sampai disitu, Kezia harus merasakan 7 kali tusukan baru deh bisa di infus.
Tangisan dan jeritan dia pun ga bisa digambarkan lagi deh, saya pun disana terus menangis karena ga tega lihat anak di tusuk-tusuk kaya gitu,, sakittttt rasanya melihat anak yang sedang kesakitan. Belum lagi Kezia kehausan dan bodohnya saya lupa beli susu dia. Miris banget huhu,, dia hanya minum air
putih yang disediakan rumah sakit.
Masalah juga tidak berhenti sampai situ, besoknya Kezia harus periksa laboratorium yang manabiayanya tidak murah, sedih memang dan lagi-lagi saya harus pinjam uang Papa untuk membayar itu semua.
Setelah menunggu sekitar 8 jam akhirnya hasil lab pun keluar dan hasil dari pemeriksaan kalau Kezia terkena virus dan untungnya cepat dibawa ke rumah sakit kalau telat bisa wassalam deh. Bersyukur banget bisa cepat di bawa ke rumah sakit walau untuk dirawat disini penuh drama.
Setelah menunggu sekitar 8 jam akhirnya hasil lab pun keluar dan hasil dari pemeriksaan kalau Kezia terkena virus dan untungnya cepat dibawa ke rumah sakit kalau telat bisa wassalam deh. Bersyukur banget bisa cepat di bawa ke rumah sakit walau untuk dirawat disini penuh drama.
Kegalauan saya tidak hanya memikirkan kesembuhan Kezia tapi juga mengenai biaya rumah sakit yang semakin membengkak. Selama dirumah sakit saya hanya nangis dan bingung, bagaimana cara bayar biaya rumah sakit, apalagi Papa hanya seorang pensiunan pegawai negeri dan saya??? Saya hanya seorang single parent dengan dua orang putri yang hanya kerja serabutan.
Iya kerja serabutan, saya hanya seorang buruh sulam pita yang 1 bahan sulam pita sepanjang 2 meter hanya dihargai Rp 16.000 saja , tak hanya jadi buruh sulam pita saja saya pun menjual aneka cemilan bikinan sendiri yang dititipkan ke warung-warung. Penghasilan dari itu semua mana cukup membayar biaya rumah sakit? Penghasilan saya hanya cukup buat makan setiap harinya. Uang
tabungan tidak punya, karena boro-boro buat nabung buat beli susu anak pun harus berjuang mati-matian.
tabungan tidak punya, karena boro-boro buat nabung buat beli susu anak pun harus berjuang mati-matian.
Alhamdulillah Allah maha baik drama biaya rumah sakit terselesaikan tepat waktu. Saudara ,tetangga dan teman menjenguk Kezia memberikan sedikit bantuan untuk biaya rumah sakit.Alhamdulillah biaya rumah sakit sekitar 3 juta lebih itu bisa dibayar lunas. Terharu banget, ini benar-benar sebuah mukzijat dimana saat saya tidak berdaya mencari uang tapi rezeki untuk bayar
rumah sakit itu ada.
Well,,belajar dari pengalaman pahit tidak punya uang untuk membayar deposit rumah sakit yang penuh drama saya berfikir bahwa sudah saatnya saya mengubah nasib yaitu mencari uang lebih banyak lagi agar memiliki tabungan masa depan dan juga memiliki asuransi jiwa. Ya harusnya memang seperti itu kalau punya tabungan dan asuransi karena pasti dikasih lebih ?mudah untuk menyelesaikan seperti masalah ini.
#PastiDikasihLebih



Comments
Post a Comment